- Ibrahim Ali Terima Anugerah Dwija Praja Nugraha 2025 atas Komitmen Pendidikan di Tana Tidung
- OJK Ingatkan Anak Muda Bijak Menggunakan Produk Keuangan Digital dan Kripto
- PLN Kerahkan 500 Petugas Pulihkan Listrik Aceh Pascabencana Banjir dan Longsor
- Produksi Beras Nunukan 2025 Diproyeksikan Turun 12 Persen, Puncak Panen Bergeser
- Pelunasan Haji 2026 Baru 0,95 Persen, BSI Catat Pelunasan Tertinggi
- APBD Bulungan 2026 Turun 13,33 Persen, Pemkab Prioritaskan Pendidikan dan Kesehatan
- Dampak Awal Bencana terhadap Ekonomi di Sumatera
- Perekonomian Kalimantan Utara tahun 2025 menunjukkan tren positif
- DPRD Kaltara Desak Perbaikan Lampu Lalu Lintas untuk Cegah Kecelakaan
- Pengajuan Surat Izin Praktek Perawat Mendominasi di Tarakan
Starlink dan Samsung Kembangkan Teknologi Internet Langsung ke Satelit, Tanpa Menara Seluler

Keterangan Gambar : Penampakan lebih dari 4.000 satelit Starlink
JAKARTA — Perusahaan satelit milik Elon Musk, Starlink, menggandeng Samsung Electronics dalam proyek ambisius mengembangkan chip berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan perangkat pengguna terkoneksi langsung ke satelit—tanpa perlu menara seluler.
Kerja sama strategis ini dikabarkan telah memasuki tahap pembahasan teknis. Seorang eksekutif senior di divisi semikonduktor Samsung dilaporkan bertemu dengan perwakilan SpaceX, induk perusahaan Starlink, untuk membahas pengembangan chip canggih tersebut.
“Diskusi masih berlangsung agar Samsung bisa menjadi bagian dari rantai pasokan komponen untuk jaringan 6G non-terestrial (NTN) milik SpaceX, yang ditujukan untuk menghadirkan koneksi internet global berbasis satelit,” ungkap sumber yang mengetahui pembicaraan itu, dikutip dari The Korea Economic Daily.
Teknologi ini nantinya memungkinkan perangkat seperti smartphone, laptop, maupun router bisnis kecil di wilayah terpencil untuk terhubung langsung ke jaringan satelit Starlink tanpa bergantung pada infrastruktur darat.
Baca Lainnya :
- Kaltara Toreh Prestasi di Bidang Keamanan Siber, Terima Penghargaan dari BSSN0
- Lapor Pak Purbaya: 28.390 Laporan Masuk, Menkeu Purbaya Janji Sidak dan Sanksi Tegas0
- BREAKING NEWS - Canva Down Hari Ini: Penyebab, Dampak Global, dan Respons Resmi Perusahaan 0
- Sewatama Tarakan Luncurkan IBSS, Teknologi Pemantau Asap Genset yang Dukung SDGs0
- Hacker Bjorka Ditangkap di Sulut, Terungkap Jejak Digital dan Sepak Terjang WFT (22)0
Berdasarkan dokumen internal yang diperoleh media Korea tersebut, divisi System LSI Samsung tengah mengembangkan chip Exynos generasi baru dengan integrasi Neural Processing Unit (NPU) atau unit pemrosesan saraf berbasis AI.
Chip ini dirancang mampu memprediksi pergerakan satelit dan menyesuaikan koneksi sinyal secara real-time. Hasil uji internal menunjukkan peningkatan signifikan — kemampuan identifikasi sinyal naik 55 kali lipat, sementara prediksi kanal sinyal meningkat 42 kali lipat dibandingkan generasi sebelumnya.
Samsung menilai pengembangan ini menjadi langkah strategis menuju diversifikasi bisnis, dari dominasi di sektor smartphone dan memori menuju peran penting dalam infrastruktur komunikasi masa depan.
Starlink disebut telah menyiapkan dana hingga 17 miliar dolar AS atau sekitar Rp257 triliun untuk investasi spektrum dan frekuensi yang akan menopang pengembangan jaringan 6G berbasis satelit.
Menurut analis industri, langkah ini berpotensi mengubah peta telekomunikasi global. Teknologi chip satelit 6G diyakini akan menjadi fondasi baru bagi industri komunikasi dengan nilai pasar yang diperkirakan mencapai 530 miliar dolar AS (sekitar Rp8.798 triliun) pada tahun 2040.
Meski menjanjikan, sejumlah ahli menilai masih ada tantangan besar, terutama terkait konsumsi daya tinggi dari modem berbasis AI tersebut. Efisiensi energi menjadi kunci agar perangkat tetap ringan, hemat daya, dan mudah digunakan di mana pun.
Jika berhasil, kolaborasi Starlink dan Samsung ini dapat membuka era baru internet global—tanpa batas wilayah dan tanpa bergantung pada menara seluler.











