- Ibrahim Ali Terima Anugerah Dwija Praja Nugraha 2025 atas Komitmen Pendidikan di Tana Tidung
- OJK Ingatkan Anak Muda Bijak Menggunakan Produk Keuangan Digital dan Kripto
- PLN Kerahkan 500 Petugas Pulihkan Listrik Aceh Pascabencana Banjir dan Longsor
- Produksi Beras Nunukan 2025 Diproyeksikan Turun 12 Persen, Puncak Panen Bergeser
- Pelunasan Haji 2026 Baru 0,95 Persen, BSI Catat Pelunasan Tertinggi
- APBD Bulungan 2026 Turun 13,33 Persen, Pemkab Prioritaskan Pendidikan dan Kesehatan
- Dampak Awal Bencana terhadap Ekonomi di Sumatera
- Perekonomian Kalimantan Utara tahun 2025 menunjukkan tren positif
- DPRD Kaltara Desak Perbaikan Lampu Lalu Lintas untuk Cegah Kecelakaan
- Pengajuan Surat Izin Praktek Perawat Mendominasi di Tarakan
Kaltara Catat Deflasi 0,01 Persen di September 2025,
Penurunan harga sejumlah komoditas pangan hingga transportasi udara dorong stabilitas harga di Kalimantan Utara

TANJUNG SELOR – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara (Kaltara) merilis data terbaru mengenai perkembangan harga pada September 2025. Berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK), Kaltara mengalami deflasi sebesar 0,01 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala BPS Kaltara, Mas’ud Rifai, menjelaskan bahwa turunnya harga beberapa komoditas pangan menjadi faktor dominan dalam deflasi kali ini. Cabai rawit tercatat sebagai salah satu penyumbang terbesar dengan andil 0,03 persen.
“Selain cabai rawit, terdapat juga bawang merah dan ikan layang masing-masing menyumbang 0,07 persen, tomat 0,03 persen, serta angkutan udara 0,05 persen. Komoditas inilah yang paling memengaruhi pergerakan harga di September,” terangnya, Rabu (1/10/2025).
Baca Lainnya :
- Ekspor Perikanan Kaltara Naik Pesat, Udang dan Kepiting Jadi Andalan Pasar Ekspor0
- Rupiah Anjlok, Harga Sembako Nunukan Terkerek Naik0
- APBD 2025, Pemprov Kaltara Percepat Belanja Modal0
- Hadiah HUT Bulungan, Denda PBB Resmi Dihapus Mulai 1 Oktober 20250
- IHSG Sepekan Naik 0,60 Persen, Kapitalisasi Pasar BEI Sentuh Rp14.888 Triliun0
Di sisi lain, BPS mencatat adanya inflasi dari kelompok komoditas tertentu. Emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,09 persen, disusul daging ayam ras, air minum dalam kemasan, serta sayuran hijau seperti sawi dan bayam.
Mas’ud menambahkan, bila ditinjau berdasarkan kelompok pengeluaran, deflasi terbesar terjadi pada transportasi dengan penurunan 0,39 persen. Sebaliknya, inflasi tertinggi muncul pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lain akibat naiknya harga emas.
Menurutnya, tren inflasi dan deflasi di bulan September cukup konsisten dalam tiga tahun terakhir. “Pola ini terlihat stabil, di mana September biasanya menunjukkan angka yang lebih rendah dibanding bulan lain,” pungkasnya.











