- Ibrahim Ali Terima Anugerah Dwija Praja Nugraha 2025 atas Komitmen Pendidikan di Tana Tidung
- OJK Ingatkan Anak Muda Bijak Menggunakan Produk Keuangan Digital dan Kripto
- PLN Kerahkan 500 Petugas Pulihkan Listrik Aceh Pascabencana Banjir dan Longsor
- Produksi Beras Nunukan 2025 Diproyeksikan Turun 12 Persen, Puncak Panen Bergeser
- Pelunasan Haji 2026 Baru 0,95 Persen, BSI Catat Pelunasan Tertinggi
- APBD Bulungan 2026 Turun 13,33 Persen, Pemkab Prioritaskan Pendidikan dan Kesehatan
- Dampak Awal Bencana terhadap Ekonomi di Sumatera
- Perekonomian Kalimantan Utara tahun 2025 menunjukkan tren positif
- DPRD Kaltara Desak Perbaikan Lampu Lalu Lintas untuk Cegah Kecelakaan
- Pengajuan Surat Izin Praktek Perawat Mendominasi di Tarakan
Pertumbuhan Ekonomi dan Bansos: Pilar Stabilisasi di Tengah Ketidakpastian
Pilar Stabilisasi di Tengah Ketidakpastian

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,04 persen pada triwulan III 2025 kembali menjadi sorotan. Angka ini menunjukkan daya tahan ekonomi nasional menghadapi tekanan global, mulai dari perlambatan perdagangan internasional hingga ketidakpastian geopolitik. Namun di balik pencapaian makro tersebut, pemerintah juga memperluas perlindungan sosial dengan anggaran mencapai Rp 504,7 triliun dalam RAPBN 2025. Kombinasi antara pertumbuhan dan bansos sering dipandang sebagai paradoks, tetapi sesungguhnya ia mencerminkan strategi stabilisasi yang realistis.
Pertumbuhan sebagai Fondasi
- Laju PDB di atas 5 persen menandakan mesin ekonomi tetap bergerak, terutama melalui konsumsi rumah tangga.
- Sektor industri dan perdagangan masih menjadi motor utama, meski sektor informal belum sepenuhnya pulih.
- Pertumbuhan ini memberi ruang fiskal bagi pemerintah untuk menyalurkan bantuan tanpa menimbulkan guncangan besar pada defisit.
Baca Lainnya :
- Hilirisasi Timah: Strategi Geopolitik dan Ekonomi Indonesia di Era Teknologi0
- UMKM Indonesia Melonjakkan Ekspor ke Eropa Pasca IEU-CEPA, Ini Temuannya0
- Bank Permata Mulai Turunkan Suku Bunga Kredit Modal Usaha Seiring Relaksasi Kebijakan BI0
- Bank Mandiri Dinobatkan Sebagai Indonesia Best Transaction Bank 2025 Berkat Transformasi Digital0
- DPRD Kaltara Tegaskan Perusahaan Wajib Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal0
Bansos sebagai Penyangga
- Realisasi bansos Rp 101,1 triliun hingga Agustus 2025 menunjukkan skala intervensi yang masif.
- Program PKH menjangkau lebih dari 10 juta keluarga, sementara bantuan sembako menyentuh 18,20 juta keluarga.
- Alih-alih dianggap sebagai “ketergantungan,” bansos dapat dilihat sebagai instrumen menjaga daya beli agar konsumsi tetap stabil, sehingga pertumbuhan tidak kehilangan tenaga.
Logika Kebijakan
- Dalam konteks ketidakpastian global, bansos berfungsi seperti shock absorber: menahan guncangan agar tidak langsung dirasakan rakyat kecil.
- Penurunan angka kemiskinan menjadi 8,47 persen pada Maret 2025 memang ditopang transfer bantuan, tetapi hal ini menunjukkan efektivitas kebijakan fiskal dalam mencegah lonjakan kemiskinan.
- Tanpa intervensi, jutaan keluarga berisiko jatuh lebih dalam, yang pada gilirannya bisa memicu krisis sosial.
Tantangan Jangka Panjang
- Meski bansos menjaga stabilitas jangka pendek, pemerintah tetap dituntut menyeimbangkan dengan program pemberdayaan ekonomi.
- Sektor informal perlu diperkuat agar rakyat tidak hanya bertahan lewat subsidi, tetapi juga tumbuh melalui produktivitas.
- Kesenjangan pendapatan masih menjadi pekerjaan rumah besar, sehingga kebijakan redistribusi harus lebih terarah.
Pertumbuhan ekonomi dan bansos bukanlah dua sahabat aneh yang dipaksa akur, melainkan dua pilar yang saling melengkapi dalam menjaga stabilitas nasional. Pertumbuhan memberi ruang fiskal, bansos menjaga daya beli, dan keduanya bersama-sama mencegah gejolak sosial di tengah ketidakpastian global. Tantangan berikutnya adalah memastikan bansos tidak berhenti sebagai penyangga, tetapi menjadi jembatan menuju kemandirian rakyat.











