- Ibrahim Ali Terima Anugerah Dwija Praja Nugraha 2025 atas Komitmen Pendidikan di Tana Tidung
- OJK Ingatkan Anak Muda Bijak Menggunakan Produk Keuangan Digital dan Kripto
- PLN Kerahkan 500 Petugas Pulihkan Listrik Aceh Pascabencana Banjir dan Longsor
- Produksi Beras Nunukan 2025 Diproyeksikan Turun 12 Persen, Puncak Panen Bergeser
- Pelunasan Haji 2026 Baru 0,95 Persen, BSI Catat Pelunasan Tertinggi
- APBD Bulungan 2026 Turun 13,33 Persen, Pemkab Prioritaskan Pendidikan dan Kesehatan
- Dampak Awal Bencana terhadap Ekonomi di Sumatera
- Perekonomian Kalimantan Utara tahun 2025 menunjukkan tren positif
- DPRD Kaltara Desak Perbaikan Lampu Lalu Lintas untuk Cegah Kecelakaan
- Pengajuan Surat Izin Praktek Perawat Mendominasi di Tarakan
Hilirisasi Timah: Strategi Geopolitik dan Ekonomi Indonesia di Era Teknologi
Hilirisasi Timah: Strategi Geopolitik dan Ekonomi Indonesia di Era Teknologi

Indonesia sedang menapaki jalan panjang menuju kemandirian industri. Dari sekadar pengekspor bahan mentah, kini bangsa ini berani melangkah lebih jauh: mengolah sumber daya menjadi produk bernilai tinggi. Salah satu komoditas yang menjadi sorotan adalah timah, logam strategis yang menopang berbagai sektor teknologi dunia.
Namun, hilirisasi timah bukan hanya soal kebijakan industri. Ia adalah strategi geopolitik yang menentukan posisi Indonesia dalam peta ekonomi global. Di tengah persaingan teknologi antara Amerika Serikat, Tiongkok, dan Eropa, timah menjadi bahan baku vital untuk elektronik, otomotif, energi terbarukan, hingga perangkat digital. Dengan cadangan timah terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok global.
- Cadangan terbesar dunia: Indonesia menyimpan kekayaan timah yang menjadi rebutan pasar internasional.
- Kebutuhan teknologi: Dari chip semikonduktor hingga baterai kendaraan listrik, timah adalah material yang tidak tergantikan.
- Geopolitik pasokan: Negara-negara maju semakin khawatir terhadap ketergantungan impor bahan tambang. Indonesia bisa memanfaatkan posisi ini untuk memperkuat daya tawar.
Langkah PT Timah Tbk bersama MIND ID dalam memproduksi tin solder, tin chemical, dan tin powder bukan sekadar ekspansi bisnis. Ini adalah perisai ekonomi agar Indonesia tidak terus-menerus terjebak dalam jebakan negara pengekspor bahan mentah.
Baca Lainnya :
- UMKM Indonesia Melonjakkan Ekspor ke Eropa Pasca IEU-CEPA, Ini Temuannya0
- Bank Permata Mulai Turunkan Suku Bunga Kredit Modal Usaha Seiring Relaksasi Kebijakan BI0
- Bank Mandiri Dinobatkan Sebagai Indonesia Best Transaction Bank 2025 Berkat Transformasi Digital0
- Wagub Kaltara: Kaltara Berpeluang Jadi Episentrum Pertumbuhan Ekonomi Baru0
- Bank Indonesia Perluas Instrumen Moneter CNY–JPY untuk Stabilkan Rupiah0
Dengan kapasitas produksi yang terus bertambah, Indonesia mulai menunjukkan bahwa ia mampu masuk ke tahap awal industrialisasi. Namun, tantangan tetap besar: regulasi fiskal yang belum mendukung, impor bebas bea yang melemahkan produk lokal, serta ekosistem industri domestik yang masih rapuh.
Di era transisi energi dan revolusi digital, permintaan timah akan melonjak. Negara-negara produsen teknologi sedang mencari pasokan yang berkelanjutan, legal, dan ramah lingkungan (ESG). Jika Indonesia mampu memenuhi standar ini, maka posisinya akan naik kelas: bukan hanya sebagai pemasok, tetapi sebagai pusat industrialisasi material berbasis timah.
Untuk menjadikan hilirisasi timah sebagai fondasi industrialisasi nasional, ada empat pilar kebijakan yang harus diperkuat:
- Pasokan legal dan berkelanjutan – mencegah ketergantungan pada sumber ilegal.
- Teknologi proses dan kualitas produk – agar mampu bersaing di pasar global.
- Ekosistem industri domestik – menciptakan permintaan dari dalam negeri.
- Positioning global melalui ESG dan inovasi – menjadikan Indonesia bukan sekadar pemasok, tetapi brand global dalam industri timah.
Lebih dari sekadar industrialisasi, hilirisasi timah adalah alat diplomasi ekonomi. Dengan menguasai rantai pasok timah, Indonesia bisa memperkuat posisi tawar dalam perundingan internasional, menarik investasi, dan membangun aliansi strategis dengan negara-negara teknologi maju.
Hilirisasi timah bukan hanya cerita tentang keberanian industri, tetapi juga tentang strategi bangsa. Indonesia memiliki kesempatan emas untuk keluar dari jebakan negara pengekspor bahan mentah dan menjadi pemain global dalam rantai pasok teknologi.
Momentum ini tidak boleh hilang. Jika regulasi diperbaiki, insentif diperkuat, dan ekosistem dipercepat, maka hilirisasi timah akan menjadi simbol kebangkitan ekonomi sekaligus kekuatan geopolitik Indonesia di era teknologi.











