- Ibrahim Ali Terima Anugerah Dwija Praja Nugraha 2025 atas Komitmen Pendidikan di Tana Tidung
- OJK Ingatkan Anak Muda Bijak Menggunakan Produk Keuangan Digital dan Kripto
- PLN Kerahkan 500 Petugas Pulihkan Listrik Aceh Pascabencana Banjir dan Longsor
- Produksi Beras Nunukan 2025 Diproyeksikan Turun 12 Persen, Puncak Panen Bergeser
- Pelunasan Haji 2026 Baru 0,95 Persen, BSI Catat Pelunasan Tertinggi
- APBD Bulungan 2026 Turun 13,33 Persen, Pemkab Prioritaskan Pendidikan dan Kesehatan
- Dampak Awal Bencana terhadap Ekonomi di Sumatera
- Perekonomian Kalimantan Utara tahun 2025 menunjukkan tren positif
- DPRD Kaltara Desak Perbaikan Lampu Lalu Lintas untuk Cegah Kecelakaan
- Pengajuan Surat Izin Praktek Perawat Mendominasi di Tarakan
Ini Durasi Ideal Main Medsos Menurut Ahli agar Terhindar dari Brain Rot
.jpg)
American Psychological Association (APA) mengingatkan bahwa fitur-fitur khas media sosial seperti endless scrolling dan notifikasi tanpa henti dapat berdampak buruk pada kesehatan mental remaja. Struktur otak anak muda yang masih berkembang membuat mereka lebih rentan terhadap perilaku adiktif dan sulit mengendalikan impuls ketika menggunakan media sosial.
Mitch Prinstein, Kepala Sains APA, mengatakan platform digital saat ini pada dasarnya dirancang untuk membuat pengguna — terutama remaja — terus terpaku di layar selama mungkin.
“Desain platform ini membuat anak-anak ingin tetap terlibat tanpa henti. Impuls mereka belum sekuat orang dewasa, sehingga lebih mudah terjerat,” jelas Prinstein, dikutip dari NBC News, Jumat (14/11/2025).
Baca Lainnya :
- BMKG Tarakan Tegaskan: Potensi Gempa Bukan Ramalan Waktu Kejadian0
- Sering Begadang Bisa Picu Serangan Jantung, Ini Penjelasan Ilmiahnya0
- Polres Tarakan Dorong Ketahanan Pangan Lewat Budidaya Jagung Pipil0
- Ilmuwan BRIN Jelaskan Isu Air Aqua dari Sumur Bor dan Risiko Longsor, Ini Faktanya0
- 144 Penyakit Tak Bisa Ditangani di IGD, RSUD Tarakan Soroti Kesiapan Puskesmas0
Ia menambahkan, efek dari paparan berlebihan ini sangat nyata, mulai dari terganggunya interaksi sosial, waktu belajar, hingga kualitas tidur. Bahkan lebih dari separuh remaja disebut telah mengalami setidaknya satu tanda kecanduan klinis terhadap media sosial.
Prinstein menilai perusahaan teknologi harus mengambil langkah konkret dengan mengubah pengaturan default akun milik anak, misalnya menonaktifkan infinite scroll atau mematikan notifikasi non-esensial.
“Meskipun ada beberapa perubahan kecil yang dilakukan platform, semuanya masih jauh dari cukup untuk benar-benar melindungi anak,” tegasnya.
Meski begitu, keterlibatan orang tua tetap penting. Ia menyarankan adanya aturan penggunaan gawai di rumah, misalnya menghentikan akses perangkat maksimal pukul 21.00.
Menurutnya, pembatasan waktu ini terbukti tidak menimbulkan dampak negatif bagi anak. “Tidak ada bukti bahwa menunda akses media sosial atau membatasi penggunaannya menjadi 30 sampai 60 menit per hari membahayakan anak,” katanya.
Berapa Lama Waktu Aman untuk Scrolling Media Sosial?
Durasi ideal penggunaan media sosial memang bervariasi untuk setiap orang, namun para ahli memberikan panduan umum agar aktivitas digital tetap seimbang.
1. Maksimal 2 Jam Per Hari
Dokter emergensi asal California, Joe Whittington, MD, menyarankan agar waktu layar untuk hiburan — termasuk media sosial — dibatasi kurang dari dua jam per hari.
Sebagai langkah awal, ia merekomendasikan penggunaan dalam durasi pendek:
20–30 menit, tiga kali sehari, untuk mencegah gangguan konsentrasi dan interaksi sosial.
2. Rasio Offline 3 Jam : Online 1 Jam
Shannon Bennett, PhD, Direktur Klinis Center for Youth Mental Health, NewYork-Presbyterian, menekankan pentingnya keseimbangan dunia nyata dan dunia digital. Ia menyarankan remaja menghabiskan tiga jam aktivitas offline untuk setiap satu jam online.
“Keluarga sebaiknya menetapkan batas waktu yang realistis bagi anak dan remaja ketika berada di ruang digital,” ujar Bennett.











