- Ibrahim Ali Terima Anugerah Dwija Praja Nugraha 2025 atas Komitmen Pendidikan di Tana Tidung
- OJK Ingatkan Anak Muda Bijak Menggunakan Produk Keuangan Digital dan Kripto
- PLN Kerahkan 500 Petugas Pulihkan Listrik Aceh Pascabencana Banjir dan Longsor
- Produksi Beras Nunukan 2025 Diproyeksikan Turun 12 Persen, Puncak Panen Bergeser
- Pelunasan Haji 2026 Baru 0,95 Persen, BSI Catat Pelunasan Tertinggi
- APBD Bulungan 2026 Turun 13,33 Persen, Pemkab Prioritaskan Pendidikan dan Kesehatan
- Dampak Awal Bencana terhadap Ekonomi di Sumatera
- Perekonomian Kalimantan Utara tahun 2025 menunjukkan tren positif
- DPRD Kaltara Desak Perbaikan Lampu Lalu Lintas untuk Cegah Kecelakaan
- Pengajuan Surat Izin Praktek Perawat Mendominasi di Tarakan
BMKG Tarakan Tegaskan: Potensi Gempa Bukan Ramalan Waktu Kejadian
Tidak Bisa Diprediksi, Hanya Bisa Dikenali

Keterangan Gambar : Kepala BMKG Tarakan Muhammad Sulam Khilmi
TARAKAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Tarakan menegaskan bahwa potensi gempa bumi di sekitar Pulau Tarakan bukan berarti ramalan akan terjadinya gempa dalam waktu tertentu. Pernyataan ini disampaikan untuk meluruskan kesalahpahaman masyarakat setelah munculnya kabar mengenai potensi gempa besar di wilayah tersebut.
Kepala BMKG Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, menjelaskan bahwa wilayah Tarakan memang memiliki sesar aktif yang berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 7,0. Namun, ia menekankan bahwa potensi tersebut bukan berarti gempa pasti akan terjadi dengan kekuatan tersebut.
“Sejak tahun 2021 kami sudah menyampaikan bahwa gempa di Tarakan memang berpotensi terjadi. Potensi itu artinya kekuatan maksimal yang bisa dicapai, bukan berarti setiap gempa akan sebesar itu,” ujarnya, Selasa (11/11/2025).
Baca Lainnya :
- Target PAD Malinau 2025 Naik 63 Persen, Bertambah Rp49,7 Miliar dari Proyeksi Awal0
- Bulungan Raih Penghargaan ISNA 2025, Bukti Komitmen terhadap Ekonomi Hijau dan Lingkungan Berkelanju0
- Apindo Kaltara Dukung Program Kegiatan Kerja Warga Binaan Lapas Melalui UMKM0
- DPRD Nunukan Desak Pemkab Segera Sahkan Tiga Desa Baru0
- Sering Begadang Bisa Picu Serangan Jantung, Ini Penjelasan Ilmiahnya0
Tidak Bisa Diprediksi, Hanya Bisa Dikenali
Menurut Khilmi, gempa bumi tidak dapat diprediksi secara waktu dan kekuatannya. Yang bisa dilakukan adalah mengenali potensi berdasarkan keberadaan patahan aktif dan riwayat kegempaannya.
“Kalau gempa, tidak bisa diprediksi. Tapi potensinya bisa dikenali dari keberadaan patahan. Tarakan punya sejarah gempa, jadi kewaspadaan itu penting,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa istilah “prediksi” seharusnya digunakan untuk cuaca, bukan gempa.
“Prediksi itu lebih cocok untuk cuaca, seperti hujan, angin, atau gelombang. Gempa tidak bisa diprediksi. Kadang masyarakat salah paham hanya karena membaca judul berita,” imbuhnya sambil berkelakar.
Sesar Tarakan Paling Aktif di Kalimantan
Khilmi menyebut Sesar Tarakan sebagai salah satu patahan paling aktif di Pulau Kalimantan. Aktivitas gempa, katanya, bersifat berulang, tergantung pada seberapa besar energi yang tersimpan di dalam bumi.
“Energi bisa terkumpul lama, bahkan hingga puluhan tahun. Misalnya gempa terakhir terjadi tahun 2015, bisa jadi baru terjadi lagi setelah satu dekade atau lebih. Itu sifat alamiah,” jelasnya.
Ia berharap masyarakat memahami informasi potensi bencana secara menyeluruh dan tidak panik. Menurutnya, potensi tersebut seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyiapkan strategi mitigasi dan edukasi publik.
Potensi Tsunami Bergantung pada Kondisi Gempa
Menanggapi pertanyaan soal potensi tsunami, Khilmi menjelaskan bahwa tidak semua gempa dapat menimbulkan tsunami. Ada tiga syarat utama yang harus terpenuhi: kekuatan gempa minimal magnitudo 7,0, pusat gempa berada di laut dangkal, dan jenis patahannya memiliki pergerakan vertikal.
“Tidak semua gempa bisa menimbulkan tsunami. Tapi gempa dengan kekuatan 5,0 atau 6,0 magnitudo pun tetap bisa merusak. Karena itu, mitigasi tetap penting,” tegasnya.
Ia menutup penjelasan dengan mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG. Edukasi dan kesiapsiagaan, katanya, adalah kunci dalam mengurangi risiko bencana alam.











