- Ibrahim Ali Terima Anugerah Dwija Praja Nugraha 2025 atas Komitmen Pendidikan di Tana Tidung
- OJK Ingatkan Anak Muda Bijak Menggunakan Produk Keuangan Digital dan Kripto
- PLN Kerahkan 500 Petugas Pulihkan Listrik Aceh Pascabencana Banjir dan Longsor
- Produksi Beras Nunukan 2025 Diproyeksikan Turun 12 Persen, Puncak Panen Bergeser
- Pelunasan Haji 2026 Baru 0,95 Persen, BSI Catat Pelunasan Tertinggi
- APBD Bulungan 2026 Turun 13,33 Persen, Pemkab Prioritaskan Pendidikan dan Kesehatan
- Dampak Awal Bencana terhadap Ekonomi di Sumatera
- Perekonomian Kalimantan Utara tahun 2025 menunjukkan tren positif
- DPRD Kaltara Desak Perbaikan Lampu Lalu Lintas untuk Cegah Kecelakaan
- Pengajuan Surat Izin Praktek Perawat Mendominasi di Tarakan
Perketat Imigrasi, Trump Terapkan Biaya Selangit untuk Pemohon Visa H-1B
Perketat kebijakan Imigrasi berdampak pada usaha Teknologi

Keterangan Gambar : Donald Trump melakukan penandatanganan perketat kebijakan imigrasi Gedung Putih
WASHINGTON – Pemerintahan Presiden Donald Trump kembali memperketat kebijakan imigrasi. Kali ini, aturan baru menyasar program visa H-1B yang banyak digunakan perusahaan teknologi untuk merekrut pekerja terampil dari luar negeri.
Pada Jumat (19/9/2025), Gedung Putih mengumumkan rencana mewajibkan perusahaan membayar hingga US$100.000 per tahun untuk setiap pemegang visa H-1B. Langkah ini dinilai sebagai pukulan telak bagi industri teknologi Amerika Serikat, yang selama ini sangat bergantung pada tenaga kerja asing berkeahlian tinggi.
Sejak kembali menjabat pada Januari lalu, Trump telah menggulirkan berbagai kebijakan keras terkait imigrasi, termasuk mempersempit jalur imigrasi legal. Ancaman teranyar ini segera memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri teknologi, yang ironisnya menjadi salah satu penyokong besar kampanye Trump.
Baca Lainnya :
- Tarakan Terapkan QRIS untuk Tekan Kebocoran Retribusi Parkir0
- Kerja Sama Penjaminan Proyek, Tana Tidung Siap Percepat Pembangunan0
- Jelang Hari Jadi Kaltara, Satpol PP Tegaskan Kesiapan Amankan Karnaval dan Hiburan HUT Kaltara0
- TKD Naik Jadi Rp 692 Triliun, Menkeu Purbaya Tegaskan Belanja Daerah Tak Boleh Mandek0
- Fasilitas Belum Lengkap, Peresmian Sekolah Rakyat Tarakan Mundur0
Kebijakan kontroversial ini memunculkan perdebatan panas. Para kritikus dan sebagian pekerja teknologi menilai visa H-1B kerap dipakai perusahaan untuk menekan upah pekerja lokal.
Namun di sisi lain, sejumlah pendukung menegaskan program tersebut justru membawa manfaat besar. Elon Musk, CEO Tesla yang juga pernah memegang visa H-1B sebelum menjadi warga negara AS, menilai program itu mendatangkan talenta global yang sulit ditemukan di dalam negeri.
“Tanpa program ini, banyak inovasi penting di Amerika tidak akan lahir,” ujar Musk dalam sebuah kesempatan.
Jika kebijakan ini diterapkan, para analis memperkirakan perusahaan raksasa teknologi seperti Google, Microsoft, Meta, hingga Tesla akan menghadapi beban biaya yang sangat besar. Hal ini berpotensi menurunkan minat perusahaan dalam merekrut pekerja asing, sekaligus memperlambat aliran talenta internasional ke pusat inovasi teknologi dunia, Silicon Valley.











