- Ibrahim Ali Terima Anugerah Dwija Praja Nugraha 2025 atas Komitmen Pendidikan di Tana Tidung
- OJK Ingatkan Anak Muda Bijak Menggunakan Produk Keuangan Digital dan Kripto
- PLN Kerahkan 500 Petugas Pulihkan Listrik Aceh Pascabencana Banjir dan Longsor
- Produksi Beras Nunukan 2025 Diproyeksikan Turun 12 Persen, Puncak Panen Bergeser
- Pelunasan Haji 2026 Baru 0,95 Persen, BSI Catat Pelunasan Tertinggi
- APBD Bulungan 2026 Turun 13,33 Persen, Pemkab Prioritaskan Pendidikan dan Kesehatan
- Dampak Awal Bencana terhadap Ekonomi di Sumatera
- Perekonomian Kalimantan Utara tahun 2025 menunjukkan tren positif
- DPRD Kaltara Desak Perbaikan Lampu Lalu Lintas untuk Cegah Kecelakaan
- Pengajuan Surat Izin Praktek Perawat Mendominasi di Tarakan
Angkatan Laut Israel Tangkap Lebih dari 450 Aktivis Global Sumud Flotilla
Angkatan Laut Israel tangkap lebih dari 450 aktivis Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan ke Gaza. Armada kemanusiaan dicegat paksa, memicu kecaman internasional atas blokade yang telah berlangsung hampir dua dekade.

Keterangan Gambar : Ilutrasi : IsraHELL yang sedang menyita KAPAL
Gaza – Ketegangan di Jalur Gaza kembali memanas setelah Angkatan Laut Israel mencegat armada bantuan internasional Global Sumud Flotilla yang hendak menembus blokade Israel. Lebih dari 450 aktivis dari berbagai negara ditangkap, sementara 42 kapal yang membawa bantuan kemanusiaan berhasil dihentikan secara paksa.
Pihak Global Sumud Flotilla menyebut tindakan Israel sebagai penculikan ilegal terhadap warga sipil. “Dunia menyaksikan apa yang terjadi ketika masyarakat sipil menentang pengepungan. Namun Marinette tetap berlayar,” ungkap pernyataan resmi mereka, dikutip dari Anadolu, Jumat (3/10/2025).
Menurut International Committee to Break the Siege on Gaza (ICBSG), kapal Marinette masih melanjutkan perjalanan meski sempat tertunda akibat kerusakan teknis. Para aktivis yang berada di armada tersebut berasal dari sejumlah negara, mulai dari Spanyol, Italia, Brasil, Turki, Yunani, Amerika Serikat, Jerman, Swedia, Inggris, hingga Prancis.
Baca Lainnya :
Aktivis Dibawa ke Ashdod
Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa para aktivis yang ditangkap akan dibawa ke Pelabuhan Ashdod di Israel selatan sebelum dideportasi ke Eropa. Media Israel, KAN, melaporkan sekitar 41 kapal dengan 400 lebih peserta ditarik paksa dalam operasi militer yang berlangsung selama 12 jam.
Para aktivis melaporkan adanya gangguan sinyal komunikasi saat kapal mereka dikepung lebih dari 20 kapal perang Israel. Beberapa rekaman yang beredar di media sosial menunjukkan kapal angkatan laut Israel mendekati konvoi sambil memaksa mereka mengubah arah.
Tuduhan Kekerasan
ICBSG menuduh Israel melakukan tindakan brutal, termasuk menabrak kapal, menyemprotkan meriam air, dan memaksa naik ke kapal aktivis. Para peserta yang berasal dari sekitar 50 negara disebut diperlakukan kasar meski mereka menegaskan aksi ini adalah misi damai.
Armada Global Sumud Flotilla saat itu berjarak kurang dari 148 kilometer dari Gaza sebelum dicegat. Serangan ini mengingatkan pada insiden sebelumnya terhadap kapal Madleen dan Handala yang juga diserang Israel pada Juni dan Juli 2025.
Kecaman Internasional
Serangan Israel terhadap armada bantuan tersebut memicu kecaman global. Amnesty International menegaskan bahwa tindakan terhadap konvoi sipil tidak dapat diterima, sementara PBB memperingatkan bahwa armada kemanusiaan harus dilindungi.
Padahal, armada yang berlayar sejak akhir Agustus itu membawa bantuan medis dan kebutuhan pokok untuk penduduk Gaza. Ini menjadi misi terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dengan sekitar 50 kapal bergabung untuk mengirim bantuan.
Krisis Kemanusiaan Gaza
Gaza saat ini dihuni oleh hampir 2,4 juta jiwa yang hidup di bawah blokade Israel selama lebih dari 18 tahun. Sejak Oktober 2023, serangan militer Israel telah menewaskan lebih dari 66.200 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak.
PBB dan berbagai lembaga kemanusiaan menegaskan Gaza kini berada di ambang kelaparan massal dan krisis kesehatan, lantaran Israel memperketat blokade dengan menutup perbatasan serta menghentikan pengiriman makanan dan obat-obatan sejak Maret 2025.











